Senin, 21 Mei 2007 mulai pukul 19.30-23.30 WIB. PP. Pemuda Muhammadiyah menyelenggarakan Milad ke-75 dan Refleksi 9 Tahun Reformasi. Acara Milad kali ini terbilang semarak karena dihadiri oleh sekitar 700 hadirin yang memadati halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya 62 dan juga sempat memacetkan jalanan di depan Kantor PP. Muhammadiyah tersebut.
Selain itu, hadir juga tokoh-tokoh nasional seperti M. Amien Rais, Wakil Ketua MPR RI Aksa Mahmud, Ketua Umum PP Muhammadiyah yang juga mantan Ketua Umum PP. pemuda Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Gowa Sulawesi Selatan (1966-1969) Prof. Dr. Ryass Rasyid, MA., juga hadir Ketua Umum GP Ansor dan juga mantan Menteri PDT Syaefullah Yusuf (Gus Ipul), Duta Besar Palestina dan Duta Besar Mesir, Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan, Anggota Fraksi PKB DPR RI Abdullah Azwar Anas dan Sunarto Muntako anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI serta pakar politik Dr. Indria Samego.
Selain itu hadir juga mantan-mantan Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah, seperti Habib Chirzin yang saat ini menjabat sebagai anggota Komnas HAM, Hajriyanto Yasin Thohari (Mas Hajri) yang sekarang menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar, Imam Addaruqutni (Mas Imam) yang saat ini menjadi Ketua Umum PP. Partai Matahari Bangsa dan juga wakil Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP. Muhammadiyah dan Abdul Mu’ti yang saat ini Sekretaris Majelis Dikdasmen PP. Muhammadiyah dan Direktur Al-Wasath Foundation.
Beberapa perwakilan dari Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah juga tampak hadir pada acara tersebut. Acara ini juga dimeriahkan oleh Orkes Gambus pimpinan Bahaudin. Selain itu ada juga pembacaan puisi oleh Choirul Umam sutradara film nasional dan budayawan asal Solo Slamet Sukirnanto.
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana yang juga Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Informasi PP. Pemuda Muhammadiyah Ma’mun Murod Al-Barbasy, menyatakan bahwa kegiatan ini sedianya akan dilaksanakan bertepatan dengan Milad Pemuda Muhammadiyah tanggal 2 Mei 2007, namun karena waktunya berhimpitan dengan pelaksanaan Tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta tanggal 26-29 April 2007, akhirnya pelaksanaan kegiatan ini diundur menjadi tanggal 21 Mei 2007.
“Dipilihnya tanggal 21 Mei 2007 tentu tidak kalah tepat, karena tanggal itu merupakan tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia, utamanya para pegiatan demokrasi di Indonesia. Pada tanggal itulah sembilan tahun lalu, tepatnya tahun 1998 rezim otoritarian Orde Baru berhasil ditumbangkan oleh gerakan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia dengan motor utamnya adalah M Amien Rais yang notabene mantan Ketua PP. Muhammadiyah”, ujar Ma’mun yang asli Brebes.
Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah M. Izzul Muslimin dalam sambutannya mengharapkan bahwa setelah 9 tahun pasca tumbangnya Orde Baru, kehidupan politik, hokum, ekonomi dan sebagainya bisa lebih baik. Mas Izzul, biasa teman-teman menyapa memandang bahwa semenjak 9 tahun lalu, nyaris tidak ada perubahan positif yang significant kea rah perbaikan bangsa, bahkan pada beberapa hal telah terjadi degradasi. Sementara terkait dengan Pemuda Muhammadiyah yang telah memasuki usianya yang ke-75, mantan Ketua Umum PP. IRM ini berharap Pemuda Muhammadiyah ke depan bisa tampil lebih “cantik”, utamanya dalam menyikapi perpolitikan nasional yang saat ini dinilainya semakin carut marut. “Pemuda Muhammadiyah ke depan harus bisa memposisikan diri sebagai pengawal bagi terwujudnya politik kebangsaan yang lebih bermartabat”, ujar Mas Izzul yang juga menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Seakan sudah menjadi tradisi di Muhammadiyah yang lebih egaliter, saat masing-masing mantan ketua umum PP. Pemuda Muhammadiyah memberikan orasi Politik Kebangsaan pun mereka saling saut menyaut atas orasi yang disampaikan sebelumnya. Tak kurang Ketua Umum PP. Muhammadiyah pun “diusili” oleh Mas Hajri dan Mas Imam. Sementara dengan gaya banyolannya Abdul Mu’ti menyindir Gus Ipul. “Kalau pada Pemilu 1999 tokoh sentral Muhammadiyah M. Amien Rais mencalonkan dan mendukung tokoh sentral NU KH. Abdurrahman Wahid, maka pada Pemilu 2009 saatnya warga NU mendukung tokoh Muhammadiyah yang lahir dari rahim keluarga NU”, ujar Abdul Mu’ti, yang disambut tepuk tangan hadirin.
Din Syamsuddin dalam sambutannya menekankan pentingnya Pemuda Muhammadiyah mengambil peran-peran politik kebangsaan. Menyikapi kasus yang terkait dengan M. Amien Rais soal dana DKP, Bang Din, biasa teman-teman menyapanya, menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Amien dinilai sebagai teladan sekalipun pada akhirnya akan membawa Amien ke penjara. Namun, Bang Din menegaskan, andaikan Amien diseret ke penjara lantaran “kejujurannya”, seluruh kasus-kasus korupsi maupun yang masih terindikasi korupsi juga harus diusut tuntas. Kalau itu tidak dilakukan, maka apa yang disinyalir sebagai tebang pilih dalam penegakan hokum di Indonesia tidak bisa dipungkiri.
Sementara Amien dengan gaya bicaranya yang berapi-api menyoroti seputar kemandirian bangsa yang semakin terkikis. Untuk memperkuat pandangannya, mantan Ketua MPR RI ini menguraikan panjang lebar seputar praktek culas pertambangan di Indonesia yang nyata-nyata telah merugikan bangsa Indonesia. Amirn juga banyak memberikan kritikan dan tohakan kepada elite-elite politik nasional (zam).